Holy Saturday.
Saya mengucapkan selamat hari waisak bagi yang merayakan. Happy Holiday for us.
Hari ini saya menelpon salah satu orang yang saya hormati, kagumi dan sayangi yaitu Ibu saya. Ya saya rindu suaranya, walau entah kenapa saya pasti tidak bisa berkata secara jujur akan hal itu, factor umur atau factor kelamin? Atau factor genetika? Saya tidak tau. Yang jelas saya hanya ingin mendengar suaranya, mendengar kabarnya dan berbicara berbagai masalah dengannya.
Semakin lama saya sering menelponnya, semakin saya sadar, orang ini adalah orang yang paling bisa saya ajak bertukar pikiran. Kalau mau jujur saya menyesal, kenapa baru sekarang saya sadar akan hal ini. Kenapa tidak lebih cepat?. Beliau adalah salah satu wanita yang selalu berusaha menyampingkan perasaan dan selalu mementingkan logika dalam suatu tindakan, saya tidak tau itu dikarenakan dia mengambil jurusan murni matematika waktu kuliah, atau karena pergaulan dan lingkungan.
Ada banyak hal yang dia ceritakan hanya dalam waktu 1 jam. Kalau mau jujur kadang-kadang saya merasa dia terlalu banyak yang berbicara, saya merasa kadang tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Tapi saya akhirnya sadar, biar saja, saya rindu akan suaranya, nasehatnya, pelajaran hidupnya, semua rencananya, candaan beliau, semua dari beliau.
Akhirnya saya baru tau titik dimana keluarga saya berada dalam level yang sangat memprihatinkan, beliau sempat mengatakan “pada saat itu, nasi basipun mama makan”. Sayang saya tidak ada dirumah, saya berada di asrama semenjak kelas 1 SMP. Dan masalah itu terjadi pada saat saya berada jauh atau dengan kata lain tidak berada dirumah. Saya tidak sempat mendengar pertengkaran kedua orang tua saya, saya malahan jarang mendengar, atau hampir tidak pernah. Ini dikarenakan memang saya jarang berada dirumah. Saya melewatkan masa-masa kritis dimana ibu saya dan ayah saya frustasi akan suatu kejadian yang ironisnya bukan karena kesalahan mereka. Mereka ditipu. Dan terpaksa menanggung konsekuensi akan kesalahan orang.
Ada beberapa pelajaran yang diambil dari situ. Dalam rumah tangga, memang kesabaran untuk selalu saling menopang ketika terjadi masalah adalah hal paling utama. Sebetapa kecewapun, jangan menyerah. Titik 0 adalah titik balik untuk membuat kita lebih kuat dari diri kita yang sekarang ini. Dan selalu saling mengisi, ketika seseorang disamping anda jatuh, jangan membuat dia tambah jatuh, rangkul dia dan berjalan bersama. Disaat itu memang dituntut kita yang harus maju, kita yang harus menanggung semua. Janganlah mengatakan kalau anda yang selalu menanggung, suatu roda dimana anda dibawah juga akan terjadi, dan orang disamping anda yang akan menolong.
Saya tercengang akan cerita ibu saya, situasi dimana dia sampai mengungsikan diri, tidak diterima orang-orang sekitar, nama tercoreng, semua dari titik 0. Ayah saya tidak bisa berbuat apa-apa karena dia merasa dia yang memulai dan semua menjadi berntakan, disinilah dia yang berpikir dialah yang harus berbuat.
Ada satu hal lucu yang saya pikir “ wah kebetulan yang aneh”. Post yang saya tulis sebelumnya dibahas oleh ibu saya tadi pagi, beliau mengatakan :
“ Tuhan sudah memberikan kita nafas, tubuh sehat, semuanya. Jangan lagi terlalu bermalas-malasan dan berpikir Tuhan sendiri yang mengatasinya. Berpikir logis, sudah diberikan alat, pakai alat itu “
Ah, saya belum rela kedua orang tua saya pergi dari dunia. Masih banyak hal yang ingin saya diksusikan dari mereka. Walau ibu saya selalu saja hiperbolis dengan mengatakan bahwa dia bakal tidak lama lagi hidup. Suatu sikap yang selalu membuat saya emosi, emosi karena saya belum siap, dan saya tidak tau kapan saya siap. Saya tidak siap untuk melepas orang yang benar-benar saya sayangi.
Best regards, king elnino