Aku memasuki SMU.. memasuki dunia baru, teman baru dan lingkungan baru.
aku memasuki sekolah yang mengharuskan siswa-nya untuk hidup mandiri, hidup di ASRAMA.
sekolah yang terletak di daerah pegunungan itu, sekolah yang sunyi, tetapi akan menjadi begitu hangat dan ramai. Kenapa bisa seperti itu? Karena kita semua keluarga didalamnya.
Aku ingat wajah-wajah orang yang masuk di asrama. Dan tentu saja aku berkenalan dengan banyak orang, banyak yang kuingat, sampai sekarang pun masih kuingat. Tapi ada satu orang yang menjadi cirri khas dalam hal kelucuan, namanya Stephenson tokare.
Orangnya kecil, tapi tak sekecil otak dan nyalinya. Laki-laki ini berasal dari Sulawesi tengah, tepatnya di daerah toil-toli. Kadang dia mendapat panggilan toil-toli, tapi kami lebih mengenalnya dengan panggilan “son” diambil dari singkatan nama depannya.
Pria ini bisa membuat aku terpingkal-pingkal, ejeken dia yang kadang membuat aku emosi, tapi apa mau dikata? Setelah mengejekku, dia membuatku tertawa, masih bisakah aku melanjutkan amarahku?
Temanku ini penuh determinasi, seperti terlihat ketika ketika bermain sepak bola bersama. Jujur tak ada yang suka menjaga pemain depan andalan angkatan kami ini. Dia lincah dan tendangannya akurat. Alih-alih dipermalukan olehnya lebih baik kami menjaga pemain lain, atau berpindah posisi agar tak perlu menghadapi dia.
tapi determinasi itu tak hanya didang olahraga, kawan.
determinasi dia pun tampak di pelajaran, ntah kapan dan kenapa dia suka kimia. Bahkan sahabat kami yang juara 1 pun mengakui kemampuan dia. Aku pun mengakui kemampuan dia, ketekunan dia. Mungkin dia merasa harus membanggakan orang tua dia yang jauh disulawesi tengah sana, dan prestasi akademik tentulah hal yang bisa dia andalkan untuk mendapatkan senyuman orang tuanya.
Ada sebuah kalimat yang mengatakan “Apa lagi yang bisa dibanggakan dari seorang laki-laki, selain kata-katanya?”
well, kawanku ini adalah lelaki yang cocok dengan kalimat tersebut, setauku dia selalu menepati apa yang dikatakannya. Dia “vocal”, seseorang yang akan berkata tidak akan sesuatu hal yang tidak dia sukai, orang yang selalu memegang pendiriannya. Tak akan gampang mempengaruhinya, dia kuat kawan, sangat kuat.
Aku sendiri melihatnya, dia menolak suatu ajakan yang sebenarnya dia tak sukai, dan walaupun akhirnya dia terpaksa melakukannya. Dia akan bertindak sebagai seorang laki-laki sejati, dia akan mengakuinya.
Hal ini membuat satu kelas kami menangis. Dia memberikan kami arti dan makna sebuah kejujuran, yang berbuah menjadi suatu bentuk kekeluargaan dan kepercayaan.
Mau tau sebagaimana dekat aku dengan temanku yang unik ini?
Kami tumbuh dan nakal bersama kawan , kami mabuk, kami merokok “ sebuah tingkah laku yang mendapat predikat penjahat pada saat itu ”. Tapi mungkin karena hal-hal nakal ini membuat aku mengenal dia lebih dalam, kami menceritakan orang-orang yang kami sukai, atau orang-orang yang kami benci. Aku hanya bisa tertawa mengenang hal itu. Apalagi ketika dia mulai membuat julukan untuk orang-orang tersebut. Suatu tindakan khas yang hanya bisa ditemukan dalam diri Stephenson Tokare.
Saking akrabnya dia denganku, sering kuajak dia kerumahku ketika akhir pekan, dia sudah seperti keluarga buatku.
3 tahun kami berteluang bersama diasrama, bersama teman2 baik kami, keluarga kami.
dan setelah 4 tahun ku tak bertemu dengan dia, kumendengar kabar bahwa dia sudah pergi bertemu dengan sang Bapa.
Aku hanya bisa terdiam, sahabat karibku telah pulang, sahabat karib yang ingin selalu kutemui kini tak lagi dapat kulihat.
Semua tak sama lagi, sobat. Semua tak sama lagi ketika kau tidak lagi bersama kami.
Tulisan ini kutulis ketika mendengarkan lagu padi – semua tak sama.
lagu yang akan terus kuingat, karena lagu ini selalu dimainkan beliau usai sekolah. Dan lagu ini juga yang kami mainkan bersama di studio band sewaktu SMU.
What a time dude, we’ll miss u.
Tulisan ini hanyalah secuil dari kenangan bersama Sahabat karib kami, Stephenson Coco Tokare.
